WALLAHU A’LAM BISSHOWAB
Saya adalah anak yang dibesarkan dalam keluarga sederhana. Bapak saya selalu mengajarkan prinsip: “hidup memang butuh uang, tapi hidup bukan untuk uang”. Dan prinsip ini tampaknya benar-benar diamalkan keluarga saya. Lihat saja bagaimana kehidupan saudara-saudara saya, tak ada satu pun yang tergolong kelas menengah ke atas. Kalau bukan kelas menengah ke bawah, mungkin kelas menengah ke samping (saya kurang tahu apakah stratifikasi sosial yang terakhir saya sebut ada dalam masyarakat kita). Kalaupun mereka punya rumah, rumah mereka hanyalah rumah yang membuat anak-anak mereka merasa tidak sedang tinggal di kandang kebo. Kalaupun mereka punya mobil, mobil mereka hanyalah cukup untuk dipakai ke sana kemari, mengangkut seisi rumah, tanpa ada embel-embel ini dan itu. Kalaupun mereka punya uang lebih, mereka lebih suka menggunakannya untuk membiayai kebutuhan sekolah murah bagi anak-anak ‘kurang beruntung’ yang didirikan almarhum bapak saya. Kalaupun mereka punya rekening di bank, sepengetahuan saya mereka tak pernah pulang-pergi ke bank sesering yang dilakukan nasabah bank pada umumnya.
Prinsip itu pula yang sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya. Meskipun dari dulu saya boros gak ketulungan, saya tidak pernah terlalu memusingkan uang. Memang, sikap saya ini mungkin diakibatkan karena sekarang saya masih menerima subsidi dari orang tua. Tetapi, pada kenyataannya saya memang tidak peduli. Saya tidak peduli kelak saya hidup dengan penghasilan yang tak seberapa. Yang penting itu sesuai dengan hati nurani saya, dan saya menikmatinya. Ketika saya hendak kuliah pun, jurusan-jurusan yang ada di pikiran saya adalah jurusan-jurusan yang tak menjanjikan pekerjaan tertentu (tapi saya suka) semacam sastra Indonesia, sastra sunda, sejarah, atau filsafat. Nyaris tidak ada pikiran untuk masuk jurusan-jurusan favorit yang (konon katanya) sangat prospektif, lulusannya dicari oleh perusahaan-perusahaan besar, dan menjanjikan pekerjaan dengan gaji selangit. Saya sama sekali tidak terpengaruh dengan anggapan itu. Buat saya (yang terkadang idealis juga), kuliah adalah tempat di mana kita mengembangkan pola pikir, usaha untuk mencari kebenaran sejati, dan upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Buat saya, kuliah yang hanya berorientasi kerja tak ada bedanya dengan kursus komputer atau akademi sekretaris atau mungkin sekolah kejuruan yang seringkali tidak menempatkan manusia sebagaimana mestinya. Kuliah yang hanya berorientasi kerja tak ubahnya sebuah pabrik rekayasa mesin-mesin industri yang berusaha mengubah manusia menjadi robot-robot yang mampu dikendalikan oleh para pemilik modal. Nyaris tidak ada penghargaan terhadap manusia dan kemanusiaan.
Tapi, saya hanya manusia biasa. Saya hanya bisa berencana, Tuhan pulalah yang menentukan. Pada akhirnya saya yang ‘tak biasa’ ini diterima kuliah di jurusan yang ‘luar biasa’; luar biasa favorit, luar biasa mahal, luar biasa ‘gaul’, luar biasa populer, dan luar biasa kaya. Tempat kuliah saya yang secara fisik ‘biasa-biasa saja’ menjadi ‘luar biasa’ karena dibanjiri mahasiswa generasi MTv yang ‘gue banget’. Jangan terlalu berharap akan menemukan sikap kritis mahasiswa di sini. Kelas-kelas kuliah yang semula saya harapkan akan menjadi ajang bertukar pendapat, ternyata amat sangat menjenuhkan. Konon, mahasiswa di jurusan saya lebih suka ‘sedikit bicara banyak bekerja’. Mahasiswa yang terlalu banyak bicara di kelas akan dianggap sebagai ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Maka, saya yang selalu membayangkan kuliah adalah tempat di mana pemikiran-pemikiran yang mencerahkan akan bermunculan, menjadi sangat kecewa dibuatnya. Di awal-awal kuliah, saya merasa sangat tidak nyaman dengan kehidupan kampus yang seperti itu. Saya lebih suka menghabiskan waktu untuk menyendiri daripada nongkrong dengan teman-teman kuliah saya. Namun, pada akhirnya saya menyadari, kehidupan seperti inilah yang akan saya jalani dalam beberapa tahun ke depan. Mau tidak mau, saya harus bisa nyaman dengan kondisi seperti itu. Saya juga sudah mulai lelah terus menerus memberontak (meski dalam hati). Saya lalu berusaha menjinakkan idealisme saya, menyesuaikan diri dengan kehidupan ‘mahasiswa generasi MTv’. Meski terkadang saya merasa mengkhianati diri saya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa saya lakukan.
Saya lalu terpengaruh juga oleh hal-hal pragmatis. Saya juga mulai merasa kuliah saya lumayan menarik. Saya juga merasa kuliah saya menjanjikan pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar. Saya lalu merasa tak terlalu idealis. Tak apalah saya sesekali tunduk pada uang, toh nanti biaya sekolah anak-anak saya juga akan makin mahal. Dan saya menyadari, saya juga punya cita-cita ingin menguliahkan anak-anak saya di jurusan-jurusan yang sangat mahal; film, musik, seni rupa, desain, arsitektur, atau kedokteran. Saya juga ingin anak saya ada yang mau kuliah di jurusan sastra Indonesia atau sastra sunda, jurusan-jurusan yang meskipun tidak begitu mahal tapi kurang menjanjikan pekerjaan mapan, sehingga saya harus bisa meyakinkan mereka bahwa saya bisa menjamin mereka hidup sejahtera, biarpun jurusan mereka kurang menjanjikan.
Saya lalu mulai mengorek-ngorek informasi mengenai pekerjaan apa saja yang bisa saya geluti kelak setelah saya selesai kuliah. Konon, jurusan saya ‘menjanjikan’ alumninya bisa bekerja sebagai praktisi humas, biro iklan, pekerja media, akademisi di bidang media, dan peneliti media. Namun, dari semua pekerjaan yang dijanjikan oleh jurusan saya, tak ada satu pun yang benar-benar klop di hati saya. Saya sempat berniat untuk menjadi praktisi humas, tapi kemudian saya menyadari bahwa seorang praktisi humas terkadang harus bisa memutar balikkan fakta demi menjaga citra perusahaan, dan itu artinya saya berbohong. Saya sempat berniat untuk bekerja di biro iklan, tapi kemudian saya menyadari iklan itu terkadang tidak realistis, cenderung hiperbolis, dan itu artinya saya berbohong. Saya sempat berniat untuk bekerja sebagai pekerja media, tapi kemudian saya menemukan fakta bahwa media itu seringkali ditumpangi oleh berbagai kepentingan, pemberitaannya terkadang tidak sesuai dengan realitas, dan itu artinya saya berbohong. Saya sempat berniat untuk menjadi akademisi di bidang media, tapi kemudian saya kecewa dengan ulah sebagian akademisi di jurusan saya yang (menurut saya) pernah melakukan kebohongan publik. Satu-satunya pekerjaan yang masih menarik minat saya adalah peneliti media. Tetapi, lagi-lagi saya merasa kurang klop karena hasil penelitian media di negara ini nyaris tidak pernah menunjukkan indikator positif kemajuan masyarakat. Saya akan merasa sangat kecewa sekali jika setelah sekian lama melakukan penelitian yang amat melelahkan, saya ‘hanya’ menemukan fakta bahwa masyarakat kita masih ‘gitu-gitu aja’.
Ah, melelahkan memang menjadi manusia dengan pemikiran tak biasa. Saya sendiri juga sering merasa heran, kenapa saya tak bisa menjadi anak muda pada umumnya, yang bisa menikmati hidup apa adanya, yang bisa menerima kenyataan dengan amat ringan, tanpa berpikir jauh, tanpa memikirkan ini dan itu. Saya lalu bertanya, kalau setelah sekian lama saya kuliah ternyata saya belum menemukan pekerjaan yang cocok, saya mau jadi apa? Lalu bagaimana dengan cita-cita saya untuk bisa punya banyak uang agar bisa menguliahkan anak-anak saya di jurusan-jurusan yang sangat mahal itu? Kalau saya tidak beranjak dari pikiran-pikiran aneh ini, saya takut selamanya ‘gini-gini aja’. Sebenarnya buat saya ini tak jadi masalah, toh saya sudah terbiasa hidup pas-pasan. Tapi, bagaimana dengan istri dan anak-anak saya nanti? Apakah mereka bisa menerima kenyataan saya hanyalah manusia dengan penghasilan tak seberapa, tapi dengan pemikiran tak biasa? Sebagai manusia tradisional, yang terkadang suka menggunakan dogma-dogma agama untuk kepentingan pribadi, saya hanya bisa berkata: “wallahu a’lam bisshowab, Tuhan-lah yang lebih tahu!”
Uncategorized | Comments (2)T A H A Y U L
Usiaku belum terlalu tua untuk mengatakan bahwa aku telah lelah
Bahwa perjalanan sejauh ini telah membuatku senantiasa berkeluh kesah
Adakah harus kubuktikan sendiri bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada
Jikalau semua tindak-tanduk ini harus senantiasa berada dibawah garis takdir-Nya
Alangkah naifnya jika kekonyolan-kekonyolan ini kau tangisi sendirian
Ajak mereka yang mau kau ajak
Rangkul mereka yang sudi kau rangkul
Karena hidup ini bukan hanya untuk jadi bahan tertawaan
Di dalamnya ada sejuta teka-teki dan segenap pertanyaan
Jikalau engkau tak cukup paham untuk apa engkau hidup
Jangan harap kau akan berkata bahwa hidup ini indah
Yah………….
Berkata-katalah dalam hatimu
Jangan sampai gumamanmu terdengar orang
Karena aku tahu candamu adalah aibmu
Senyummu adalah tangismu
Dalam dekapan malaikat
Senantiasa kau berdendang mesra
Bahwa kau mencintaiku
Tidak dengan kehinaanku
Sembarangan kiranya jika kau tertawa terbahak-bahak
Melihat aku terjatuh dengan mata sembab
Semalaman aku tangisi kepergianmu
Juga kedatanganmu yang sama sekali tidak aku harapkan
Kau juga harus tahu bahwa aku adalah malaikat
Yang harus kau perlakukan dengan hati-hati karena aku adalah barang pecah
Sedikit saja kau jatuhkan aku
Jangan harap kau akan melihatku kembali utuh
Ibuku senantiasa menasihatiku
Kau terlahir dari keluarga pejuang
Karena pejuang adalah mahluk yang paling menderita
Maka persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk bisa tetap berdiri
Dalam tikaman penderitaanmu
Dalam cengkeraman kesedihanmu
Aku yakin aku tak mampu pergi
Menghindari kodratku sebagai mahluk paling menderita
Maka sebelum semua yang kau takutkan terjadi
Ada baiknya ini dan itu kau teliti kembali
Siapa tahu selama ini kau telah berbuat salah
Kesalahan yang tidak dapat diampuni oleh siapapun
Dalam bentuk apapun
Uncategorized | Comments (2)DIZALIMI
selama saya hidup, berkali-kali saya merasakan sakitnya dizalimi. konon, do’a orang yang dizalimi itu dijamin akan dikabulkan Tuhan. maka, tiap kali saya dizalimi, saya selalu berusaha untuk berdo’a.
saya pernah dizalimi oleh waktu. di saat saya belum siap untuk kehilangan orang yang amat saya cintai, saya dipaksa harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang amat saya cintai itu telah pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya. saya lalu berdo’a semoga sang waktu memberikan saya kekuatan untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
saya pernah dizalimi oleh seorang penipu. saya kira dia orang baik, tetapi ternyata dia menjerumuskan saya ke dalam sehina-hinanya kedudukan manusia. saya lalu berdo’a semoga sang penipu menemukan sasaran yang lebih tepat untuk ia tipu.
saya pernah dizalimi oleh sahabat saya. saya kira dia mampu menerima segala kekurangan saya, tetapi ternyata dia menganggap saya orang cacat yang tak pantas memiliki sahabat. saya lalu berdo’a semoga ia tak lagi bersahabat dengan orang cacat seperti saya.
saya pernah dizalimi oleh cinta. saya pikir cinta itu indah, seindah orang mengatakannya, tetapi ternyata ia amat menyakitkan. saya lalu berdo’a semoga cinta tak lagi menyakiti saya.
saya pernah dizalimi oleh bapak-bapak sok tua tetangga kamar saya. saya pikir mereka mengerti bahwa saya masih muda, tetapi ternyata mereka adalah manusia-manusia yang langsung tua, tidak pernah merasakan masa muda. saya lalu berdo’a semoga mereka tidak lagi membuat suram masa muda saya yang amat berwarna ini.
paling menyakitkan adalah ketika saya dizalimi oleh diri saya sendiri. saya pikir saya sudah cukup cerdas untuk membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, tetapi ternyata saya masih sangat bodoh dan tolol. saya lalu berdo’a semoga saya tidak selamanya bodoh dan tolol.
saya amat meyakini Tuhan tidak pernah menzalimi saya. saya lalu berdo’a semoga saya diberi kekuatan oleh-Nya agar selalu bisa melaksanakan tugas-tugas saya sebagai makhluk-Nya, amiin!
Uncategorized | Comments (3)HIDUP ITU MARMOS
pagi-pagi buta di bulan oktober 95. saya bangun dengan penuh bersemangat. saya tengok bapak saya yang sudah hampir tiga bulan terbaring lemah, berjuang sekuat tenaga melawan kanker paru-paru. bapak saya tak ada di tempat tidur. saya temui emak saya, saya bertanya: “mak, apa ke mana?” emak saya menjawab: “apa lagi di masjid sep” alangkah bahagianya saya, saya pikir bapak saya sudah sehat sehingga sudah bisa solat subuh ke masjid lagi. saya berlari-lari ke masjid dengan penuh keceriaan. di luar rumah banyak orang menatap saya dengan tatapan yang sangat aneh, namun saya tak peduli. saya bilang kepada mereka “apa sudah sembuh, apa sudah sembuh” saya sampai di masjid. saya terkejut karena di depan saya ada sesosok manusia terbujur kaku, terbungkus kain kafan, dengan wangi melati yang sangat khas. banyak orang di masjid, riuh rendah saya dengar bacaan surat yasin, saya cari-cari bapak saya, barangkali bapak saya juga sedang ikut membacakan surat yasin, tapi nihil. tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya dari belakang, membisikkan sesuatu di telinga saya: “apamu sudah meninggal sep” MARMOS SEKALI!
emak saya adalah yang paling terpukul dengan kepergian bapak saya. beberapa minggu pekerjaannya hanya menangis dan menangis. padahal ia punya tanggung jawab besar untuk menyekolahkan kelima anaknya. saya pikir kalau beliau terus menerus menangis bisa-bisa saya dan kakak-kakak saya putus sekolah. maka saya beranikan diri untuk menghiburnya, saya bilang: “mak, tak usahlah kita terlalu menangisi kepergian apa, toh nantinya kita akan meninggal juga kan?” emak saya menjawab: “emak menangis bukan meratapi kepergian apamu, emak menangis karena malu. tahukah kau sep? baru saja beberapa minggu apamu meninggal, sudah banyak pria-pria menitip pesan kepada pamanmu hendak menikahi emakmu yang sudah keriput ini” MARMOS SEKALI!
sepeninggal bapak saya, saya mengidap penyakit aneh. saya gampang capek, saya gampang sakit. sedikit saja saya bermain-main dengan teman-teman saya di sawah atau berenang di kali, saya jatuh sakit. hidup saya pun menjadi sangat membosankan. saya hanya bisa bermain di rumah. agar saya tidak terlalu jenuh, emak saya membeli televisi, barang yang paling diharamkan almarhum bapak saya. tapi tetap saja saya ingin bermain dengan teman-teman saya. terkadang emak mengundang teman-teman saya untuk bermain di rumah saya. lalu emak saya membuat kue yang enak, minuman yang segar, dan masakan yang lezat. memang, selama makanan itu masih tersedia, teman-teman saya betah bermain di rumah saya. tapi, kalau makanannya sudah mulai habis, satu per satu dari mereka berpamitan kepada emak saya. MARMOS SEKALI!
saya lulus SD dengan nilai yang lumayan bagus. saya lalu mendaftar ke SMP terfavorit se-kabupaten, dan saya diterima. ketika pengumuman penerimaan, saya diantar kakak saya. saat kakak saya masuk kelas untuk mendengarkan pengumuman tambahan, saya ditinggal di lapangan basket sekolah itu. sekelompok siswa yang sedang main basket tiba-tiba menghampiri saya, salah satu dari mereka bilang: “pendek sekali badanmu. hati-hati, di sekolah ini siswa yang badannya pendek suka dijailin” saya langsung takut. sesampainya di rumah saya merengek kepada emak saya untuk mengundurkan diri dari sekolah itu. di hari pendaftaran ulang, secara resmi saya mengundurkan diri dari sekolah itu. kandas sudah harapan saya untuk bersekolah di SMP favorit. MARMOS SEKALI!
berhubung semua sekolah sudah mengakhiri masa pendaftaran, akhirnya selepas SD saya disekolahkan di pesantren. saya sebetulnya tidak mau karena saya lihat pesantren itu sangat mengisolasi peserta didiknya. namun, daripada tidak bersekolah, saya pun menyetujui. ternyata, dugaan saya tidak meleset. saya dimasukan ke pesantren yang amat tradisional, jauh dari perkembangan dunia. peraturannya sangat banyak dan membingungkan. tidak ada pelajaran komputer, tidak ada laboratorium, bangunan sekolahnya saja sudah hampir roboh. air untuk mandi saja sangat terbatas. makan seadanya, tidur beralaskan lantai. terkadang preman-preman pesantren juga merampok persediaan makanan di lemari saya. pelajaran agamanya amat tekstual dan dogmatis, nyaris tidak memberikan tempat untuk interpretasi ulang. anehnya, enam tahun saya bertahan hidup di tengah kondisi seperti itu. MARMOS SEKALI!
setelah enam tahun hidup di pesantren, alhamdulilah saya diterima kuliah di perguruan tinggi impian saya. biarpun sekian tahun saya belajar agama, saya kurang tertarik untuk kuliah agama. buat saya, kuliah agama itu membutuhkan kehati-hatian yang amat sangat. saya tidak berani kalau harus kuliah yang isinya mengotak-atik ketentuan-ketentuan Tuhan, saya takut salah. di tempat kuliah, saya menemukan dunia yang benar-benar baru. tidak ada dogma di sini, tidak ada kebenaran tunggal. semua orang berhak menginterpretasi sesuai dengan perspektifnya sendiri. saya juga cenderung pluralis, senang bergaul dan berdiskusi dengan orang dari latar belakang apa pun. saya tidak suka orang fanatik, apalagi radikal. buat saya, semua orang sama dan sederajat. tidak peduli agamanya apa, latar belakangnya apa. bukankah agama saya juga berkata: “manusia yang paling mulia di mata Tuhan adalah yang paling bertakwa” dan buat saya takwa itu sifatnya amat personal, tidak bisa dilihat dari tampilan dan sikap saja. dan orang dengan agama apapun menurut saya punya kesempatan untuk bertakwa. anehnya, saya masih saja menemukan orang fanatik dan radikal, yang merasa dirinya paling bertakwa, yang merasa dirinya paling dekat dengan Tuhan. MARMOS SEKALI!
saya bukan orang yang senang berorganisasi, tetapi saya dipaksa berorganisasi. nilai mata kuliah saya yang berhubungan dengan organisasi saja sudah amat mengkahawatirkan. saya tahu organisasi itu penting. tapi saya tidak suka karena menurut pengamatan saya organisasi itu selalu disesaki orang-orang yang sok pinter, senang berdebat kusir. kalau suatu saat nanti saya menemukan organisasi yang isinya adalah orang-orang yang ‘benar-benar pinter’, mungkin saya akan bersemangat untuk mencobanya. satu-satunya organisasi yang saya ikuti adalah organisasi alumni pesantren saya. sebagai alumni pesantren saya, secara otomatis saya menjadi anggota organisasi tersebut, tanpa bisa saya tolak. dan ternyata dugaan saya benar adanya. bayangkan saja, untuk sekedar menentukan berapa iuran yang harus diberikan anggota untuk menyelenggarakan sebuah acara, dibutuhkan waktu semalam suntuk, dengan debat kusir yang berkepanjangan, dengan interupsi dari orang-orang yang merasa dirinya pinter, saling gontok-gontokan dan menjatuhkan, bahkan dengan emosi yang membuat syaraf-syaraf saya tegang, jantung saya berdegup kencang, mirip dengan sidang pleno di gedung MPR sana. saya tidak tahu apakah prosedur organisasi itu memang selamanya seperti itu atau mungkin itu karena saya amat subjektif. kalau setiap organisasi memang membutuhkan situasi yang panas seperti itu, barangkali sampai akhir hayat pun saya tidak akan berorganisasi. saya adalah orang yang cintai damai, kedamaian, dan perdamaian. saya tidak suka ada orang bertikai, meskipun untuk urusan yang sangat penting. apalagi kalau bertikai untuk hal-hal yang tidak jelas esensinya. MARMOS SEKALI!
saya adalah mahasiswa yang senang berpindah-pindah kosan. hingga awal semester lima ini saya sudah empat kali pindah kosan. alasan saya sederhana, karena saya ingin menemukan kosan yang benar-benar membuat hati saya nyaman, benar-benar nyaman, senyaman-nyamannya. kosan pertama saya sebetulnya juga nyaman. tetapi saya tidak benar-benar nyaman karena orang-orangnya suka saling menjatuhkan satu sama lain. saya sering mendengarkan penghuni kosan yang ini memberi komentar tentang penghuni kosan yang itu kepada saya. di lain kesempatan, giliran penghuni kosan yang itu memberi komentar tentang penghuni kosan yang ini kepada saya. padahal menurut saya, kalau mereka memang sama-sama sudah dewasa, apa susahnya saling memberikan komentar lengsung ke orangnya, jangan kepada saya, saya kan bukan tong sampah. daripada saya pusing, akhirnya saya memutuskan pindah kosan. kosan kedua saya sebetulnya secara estetika ‘kurang indah’. tetapi saya mau pindah ke sana karena semua penghuni kosan adalah alumni pesantren saya. saya pikir, dengan kesamaan latar belakang, semua penghuni kosan akan kompak dan ’solider’. ternyata memang kompak dan ’solider’, tetapi mereka sangat suka bermain-main. terkadang di saat saya sedang bingung mengerjakan tugas kuliah, mereka mengajak saya nongkrong di suatu tempat, dan saya seringkali tidak berani untuk menolak. belum lagi saya merasa tempat kos saya itu semakin kotor dan dingin saja. daripada saya sakit dan kuliah saya terbengkalai, akhirnya saya memutuskan pindah kosan. kosan ketiga saya adalah sebuah rumah kontrakan denga tiga kamar yang dihuni bersama oleh enam orang. semua penghuni kosan adalah penerima beasiswa seperti saya sehingga saya pikir pola belajar mereka akan sama dengan saya. ternyata mereka memang rajin belajar. setiap hari kami mengerjakan tugas bersama di ruang tengah. satu hal yang membuat saya kurang nyaman adalah kami tidak bisa mengompakkan diri dalam pemeliharaan rumah kos. akibatnya, rumah kos kami sering berantakan tidak karuan. kalau energi saya sedang melimpah, dan saya sedang rajin, biasanya saya secara sukarela membersihkan rumah itu, sendirian. tapi lama kelamaan saya bosen juga. belum lagi jarak dari kosan ke kampus yang lumayan jauh untuk ukuran saya, saya paling males kalau sebelum kuliah saya sudah stres duluan karena polusi di jalan dan bisingnya bunyi klakson dari pengendara-pengendara yang kesetanan. daripada saya capek sendiri, akhirnya saya memutuskan pindah kosan. kosan keempat saya yang sampai sekarang saya tempati adalah kosan yang benar-benar damai dan dekat dengan kampus. sengaja saya memilih kosan yang dekat dengan kampus agar sekali-sekali saya bisa pergi ke kampus tanpa naik kendaraan, alias jalan kaki. dan keinginan saya terkabul. terkadang kalau saya tidak sedang terburu-buru, saya berangkat kuliah jalan kaki, dan buat saya itu benar-benar menyenangkan. akan tetapi, kosan saya ternyata terlalu damai, malah sepi sekali tak ubahnya suasana di kuburan. mayoritas penghuni kosan ‘bisu-tuli’, tak mau mengakrabkan diri satu sama lain. semuanya sibuk dengan dunianya sendiri, nyaris tak pernah bertegur sapa. kalau saya sedang butuh keramaian, biasanya saya menyetel musik dari komputer saya atau nyanyi sendiri dengan begitu riang, kadang di kamar tidur, kadang di kamar mandi. tetapi tampaknya penghuni kosan saya memang ‘benar-benar cinta damai’. konon, mereka mengadu kepada bapak kos saya karena terganggu dengan kebiasaan saya itu. dan pada suatu hari, sebuah surat peringatan dari bapak kos saya ditempel di pintu kamar saya yang intinya adalah: “jika saudara tidak bisa menghentikan kebiasaan buruk saudara, lebih baik saudara mencari tempat kos lain” MARMOS SEKALI!
Uncategorized | Comments (8)SAYA DAN LASKAR PELANGI
jujur, saya terkadang suka latah juga, dan amat sering ketinggalan jaman. di saat orang-orang ramai ramai menonton laskar pelangi dan mengomentarinya dalam berbagai forum, saya ikut-ikutan juga. di saat semua teman kuliah saya sudah menonton laskar pelangi sebulan yang lalu, saya baru menontonnya beberapa hari yang lalu. saya memang latah dan ketinggalan jaman. tetapi saya cinta diri saya sendiri. tak apalah saya mencintai diri sendiri, toh orang lain tak ada yang mau peduli akan kehidupan saya. kalau bukan saya yang mencintai diri saya sendiri, lantas siapa lagi? (seperti kata-kata dalam sebuah iklan ya?)
saya dan laskar pelangi memang tidak ada hubungan apa-apa. tetapi saya terlanjur terjebak dalam apa yang diistilahkan oleh dosen saya sebagai relasi semu. saya merasa sangat dekat dengan tokoh-tokoh dalam film tersebut, padahal saya tahu mereka hanyalah fiktif belaka. kalaupun film itu diangkat dari kisah nyata, saya tetap saja menganggapnya sebagai sebuah fiksi, karena sebuah film buat saya adalah gambaran dari sebuah realitas, bukan realitas itu sendiri.
saya menemukan faktor penting yang menyebabkan saya terjebak dalam relasi semu dengan laskar pelangi. harap dicatat, saya bukan seorang fanatik yang amat mengagumi sebentuk makhluk dengan membabi buta. saya hanya bisa kagum dan merasa dekat jika saya sudah mengenal dengan baik sebentuk makhluk tersebut. dan saya merasa amat sangat mengenal sosok-sosok laskar pelangi itu. jujur, saya belum pernah membaca novelnya, karena saya lebih suka cerpen ketimbang novel. sebelum novel laskar pelangi difilmkan, saya hanya tahu bahwa isi novel itu adalah perjuangan sekelompok anak manusia untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka di tengah segala keterbatasan. biarpun tema-tema perjuangan adalah kesukaan saya, tetap saja novel itu tidak mampu memaksa saya untuk membelinya, dan tentu saja membacanya. akan tetapi, begitu saya menontonnya, saya langsung saja hanyut dalam setiap adegan yang dipertontonkan. saya bahkan merasa saya adalah aktornya.
memang, menjadi aktor adalah obsesi terpendam saya. tetapi, bukan itu inti permasalahannya. saya merasa begitu dekat dengan laskar pelangi karena segala tektek bengeknya nyaris mirip dengan kehidupan nyata saya. pertama, soal sekolah mereka. sekolah SD saya hampir mirip dengan sekolah mereka. kalau di laskar pelangi ada bu muslimah yang masih lajang dan selalu bersemangat, di SD saya ada bu rosyidah yang cantik jelita. kalau di laskar pelangi ada kepala sekolah yang amat idealis, SD saya punya pak rubaedin yang tak kalah idealisnya. kalau di laskar pelangi ada siswa yang ’sedikit berbeda’, teman SD saya ada yang tiap hari memaksa bu rosyidah untuk bermain-main di ruang kelas. kalau di laskar pelangi bangunan sekolahnya nyaris mirip kandang kambing, di SD saya tiap hari pasti ada tahi ayamnya. kalau di laskar pelangi sekolahnya mengajarkan nilai-nilai agama islam, SD saya mewajibkan setiap siswanya mampu membaca al-qur’an. kalau di laskar pelangi sekolahnya sering jadi bahan cemoohan orang, SD saya nyaris tidak diperhitungkan sebagai sebuah sekolah, bahkan oleh dinas pendidikan di kecamatan. bedanya, sekolah saya tidak sampai tidak memiliki murid.
kedua, kalau saya perhatikan sosok seorang ikal, saya merasa ada saya di dalamnya. seperti halnya ikal, saya bukan siswa terpandai di kelas saya. saya hanya siswa yang beruntung karena bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. sahabat saya yang paling pandai di kelas pada akhirnya harus putus sekolah karena harus membantu menafkahi keluarganya, persis seperti lintang, sahabat ikal yang paling pandai yang harus putus sekolah karena harus menafkahi adik-adiknya yang yatim-piatu. seperti halnya ikal, di SD saya juga amat bergantung pada sahabat setia saya. tanpa sahabat saya itu, mungkin saya tidak akan jadi seperti sekarang ini. seperti halnya ikal, saya juga sempat jatuh cinta kepada anak perempuan yang baru pertama saya kenal. seperti halnya ikal, saya juga pernah mendampingi sahabat saya mengikuti cerdas cermat, meski tidak menang. bedanya, saya bukan bocah periang yang senang bermain-main dengan alam.
saya tidak tahu persis perjalanan hidup bocah-bocah laskar pelangi itu setelah tamat SD. di filmnya diceritakan bahwa beberapa tahun kemudian ikal pulang kampung. saya kurang paham, apakah ia pulang kampung setelah tamat SMA atau setelah tamat kuliah tingkat sarjana. yang pasti, di film itu diceritakan ikal berhasil mendapatkan beasiswa ke universitas sorbonne, salah satu universitas bergengsi di dunia yang terkenal dengan tradisi filsafatnya yang amat kental. dari fakta ini saya dengan sok tahu menerka bahwa ikal pulang kampung setelah tamat sarjana karena setahu saya orang indonesia yang diterima kuliah di sorbonne belum pernah ada yang diterima kuliah di tingkat sarjana, kalau bukan tingkat master mungkin tingkat doktoral.
saya kini sedang berkuliah. dan jika saya berhasil meraih gelar sarjana, maka saya akan pulang kampung dengan bangga seperti halnya ikal. saya tahu masa kecil saya bukan masa kecil cerah ceria seperti masa kecil ikal, tetapi saya berharap Tuhan berkenan memberi keberuntungan yang sama persis dengan keberuntungan yang dimiliki ikal. kalau saya pulang kampung sekarang, saya sangat berbahagia karena melihat sekolah SD saya yang buruk rupa itu kini jauh lebih megah. dan saya akan lebih berbahagia lagi jika setelah meraih gelar sarjana saya juga bisa mendapatkan beasiswa untuk tingkat master di universitas ternama seperti halnya ikal. kalau keinginan ini kesampaian, maka bertambah lah kesamaan kehidupan saya dengan laskar pelangi. saya adalah anak manusia yang penuh keterbatasan namun selalu bermimpi, bersemangat mengejar mimpi, dan berhasil mewujudkan mimpi. namun, saya tidak mau jika sahabat karib saya bernasib kurang mujur seperti lintang. saya ingin sahabat karib saya memiliki pekerjaan yang lebih manusiawi, namun tetap cerdas dan bersemangat seperti halnya lintang. AMIIN!
Uncategorized | Comments (7)LEBARAN
saya kini bukan anak kecil lagi. suka cita menyambut lebaran bukan lagi karena baju baru. kini, saya adalah perantau. bisa mudik, berlebaran bersama keluarga di kampung halaman adalah hal yang amat menggembirakan.
saya kini sudah belajar lebih banyak hal. maka wajar jika saya banyak bertanya, meski hanya dalam hati. dan di lebaran kali ini, muncul pertanyaan besar dalam hati saya, apa makna keberagamaan itu?
saya menduga, kebanyakan orang sekarang hanya mengaku beragama. buktinya, banyak ditemukan perempuan berjilbab terlibat korupsi, banyak pria berjubah berbuat cabul, banyak pemuda berjenggot merampas hak orang, banyak rumah ibadah dibakar orang. saya yakin jika semua yang beragama benar-benar menghayati dan mengamalkan agamanya, dunia iniakan bebas dari segala bentuk kekejian. tak akan ada jurusan kriminologi di perguruan tinggi mana pun di dunia ini, dan seorang profesor adrianus meliala akan gigit jari dibuatnya.
saya sempat bertemu dengan beberapa orang yang mengaku tak beragama. saya tak menyalahkan mereka, boleh jadi mereka memilih jalan hidup itu karena muak dengan agama yang terus menerus diobok-obok. saya malah melihat mereka terkesan lebih humanis ketimbang mereka-mereka yang hanya mengaku beragama. seorang kenalan saya yang mengaku tak beragama dan bangga dengan profesinya yang oleh sebagian besar orang dianggap hina bilang: “saya malas beragama karena kini agama adalah sebuah paradoks. semakin ia memperilhatkan eksistensi, semakin ia kehilangan esensi”. dan itu benar adanya.
saya sudah setengah dewasa. maka lebaran kali ini saya hanya bisa tertegun, bertanya meski hanya dalam hati, APA MAKNA KEBERAGAMAAN ITU?
Uncategorized | Comments (3)CINTA
di antara teman-teman sepermainan waktu sma, barangkali saya adalah orang yang paling payah soal cinta. saya adalah pria pengecut yang seringkali tak berani mengungkapkan rasa cinta. kalaupun saya berani, saya seringkali bingung, apa yang harus saya lakukan dengan ‘cinta’ saya, apakah saya harus mentraktir ‘cinta’ saya makan siomay di kantin sekolah saya yang sangat asoy itu? ataukah saya harus mengajak ‘cinta’ saya jalan berdua setiap kali pulang sekolah? apakah saya harus mengajak ‘cinta’ saya kencan di warung mie ayam depan sekolah? apa yang harus saya berikan ketika ‘cinta’ saya berulang tahun? apakah bantal, kaos kaki, atau penggorengan mini bermerk maxim?
kini, setelah saya berkuliah, saya semakin payah saja soal cinta. buat saya, cinta semakin absurd saja. saya bahkan tak mengerti apa itu cinta. apakah mereka yang berboncengan mesra dengan berbagai gaya itu adalah cinta? apakah mereka yang jalan berdua di ambarrukmo plaza adalah perwujudan cinta? apakah mereka yang menonton berdua di bioskop 21 sedang merayakan cinta? apakah mahasiswa jogja yang memiliki pacar di luar jogja adalah bukti kekuatan cinta? apakah ada hubungannya antara cinta dengan cinta laura? entahlah, saya bingung dan saya puyeng.
saya kemudian berusaha berpikir kembali, tapi tetap saja cinta itu terlalu absurd buat saya. saya malah menemukan sisi lain dari cinta. saya malah sering menemukan cinta dalam diri para pengemis di kampus saya, yang demi hidup yang amat mereka cintai, mereka rela berpanas-panasan, membuang jauh-jauh rasa malu, bahkan terkadang diusir oleh satuan keamanan kampus karena dianggap merusak keindahan kampus. saya malah sering menemukan cinta dalam diri dosen-dosen saya yang rela dibayar murah demi ilmu yang mereka cintai. saya malah sering menemukan cinta pada diri syafiatudina, mahasiswa paling aneh di angkatan saya, mengaku tak beragama, berniat tak berkeluarga, tapi saya yakin ia punya cinta. saya malah sering menemukan cinta pada diri mas bari, google-nya komunikasi ugm, yang mengabdikan dirinya untuk memenuhi kebutuhan semua warga komunikasi ugm, meski saya tahu penghasilannya tak seberapa. saya malah sering menemukan cinta pada diri eyang depan kos saya, yang masih segar bugar di usianya yang amat senja, pergi ke sana ke mari, ke gereja, menengok anaknya, naik bis kota jogja yang amat sangat tidak aman, tapi ia nyaman karena ia punya cinta. saya lebih sering lagi menemukan cinta pada diri ibu saya, perempuan rapuh yang berhasil memandirikan keenam anaknya, ia bukan profesor doktor, tapi darinya saya belajar banyak hal, ia bukan aktivis, tapi ia punya idealisme. jauh di atas segalanya, saya meyakini ada cinta Tuhan yang sebagian kecil pancarannya saya temukan pada diri orang-orang yang saya sebutkan di atas.
intinya, saya kurang percaya pacaran adalah cinta, saya bahkan kurang percaya pernikahan adalah cinta. buat saya, cinta adalah sesuatu yang amat absurd yang hanya bisa tampak pada diri mereka yang memilikinya. APAKAH ANDA MEMILIKI CINTA?
Uncategorized | Comments (2)ADAKAH YANG MAU MEMAHAMI?
Setiap apa yang aku katakan.
Akan berakhir dalam apa yang kau tangkap.
Setiap apa yang aku lakukan.
Akan berlabuh dalam apa yang kau bayangkan.
Aku mungkin pengecut.
Lebih melodramatik ketimbang cerita telenovela.
Tapi aku masih punya hati nurani.
Yang barangkali telah lama hilang dari tubuhmu.
Lelah dan asaku adalah kesatuan tak terpisahkan.
Itu yang selama ini tak kau sadari.
Tak penting apa itu sebuah definisi.
Lebih penting kau gali dan kau cari.
Apakah ini sebuah narasi?
Ataukah ini sebuah deskripsi?
Tak usahlah kau permasalahkan.
Dari planet mana dia berasal.
Dari galaksi mana mereka datang.
Karena itu hanya akan membuatmu semakin bingung.
Menentukan mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Karena kebaikan adalah fatamorgana.
Karena kebaikan adalah lautan keringat.
Karena kebaikan adalah selingkuh.
Karena kebaikan terkadang membingungkan.
Jujur, aku tak cukup kuat menghadapi kemunafikanmu.
Terkadang ingin kusumbat saja mulut besarmu.
Bicara tak karuan, entah mana yang benar dan mana yang kurang benar.
Sesungguhnya itu bukan urusanku.
Tugasku hanyalah mengingatkan.
Bahwa bualanmu tak cukup kuat untuk membuatku duduk termenung.
Aku masih sama seperti yang dulu.
Masih suka bertutur sapa.
Masih suka melambaikan tangan kepada siapa saja yang lewat di depan rumahku.
Memang, mereka mengira aku telah berubah.
Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak berubah.
Karena berubah bukan tugas dan wewenangku.
Karena berubah membutuhkan keberanian.
Buang saja semua khayalanmu.
Sungguh aku tak lagi mau mendengar keluh kesahmu.
Biarlah semua terjadi dengan sendirinya.
Seperti tetesan air hujan di sore yang kelam itu.
Karena aku bukan dia, bukan mereka.
Karena aku adalah apa yang aku pikirkan.
Bukan bangkai, bukan pula air hujan.
Uncategorized | Comments (2)S E M B A R A N G A N
Hari ini dan hari itu sama saja
Dia datang begitu saja
Lantas berlalu tanpa pamit
Entah harus kuapakan orang seperti dia
Matinya pun bahkan tak akan ada yang tahu
Hanya saja kemarin dia datang dengan cara yang tak biasa
Mulutnya bau amis
Giginya berlumuran darah
Tahi lalatnya malah berubah jadi tahi yang sesungguhnya
Entah penyakit apa yang dideritanya
Napasku hingga tersengal-sengal dibuatnya
Rasa sayangku pun muncul kembali
Sayangnya dia harus mampu menerima kenyataan
Dan inilah yang seringkali tak mampu dilakukannya
Bahwa aku bukan yang dulu lagi
Yang berani meludah sembarangan
Yang berani kentut sembarangan
Yang berani buang sampah sembarangan
Karena aku bukan orang sembarangan
Dikiranya aku masih budak nafsunya
Yang mau menghamburkan uang demi sejumput rumput liar
Aku bukan yang itu
Sama sekali bukan yang itu
Karena dalam jiwaku ada sesuatu yang baru
Yang tak mungkin bisa dipahaminya
Dan itulah kenyataannya
Dan itulah kenyataannya
Yah, mau bagaimana lagi
Memang itu kenyataannya
Jangan banyak protes
Karena aku tak senang diprotes
Jangan banyak bicara
Karena sedikit bicara banyak bekerja
Dan itulah kenyataannya
Yah, itulah kenyataannya
Uncategorized | Comments (2)seperti inikah ‘ramadhan terbaik dalam hidup saya’?
bagi anda yang rajin mengunjungi friendster saya, juga rajin memperhatikan shotout dalam friendster saya, barangkali anda akan menemukan ungkapan “mudah-mudahan ramadhan kali ini menjadi ramadhan terbaik dalam hidup saya” di shotout friendster saya di awal ramadhan ini. sebenarnya di awal ramadhan saya sempat menulis shotout berisi ungkapan “mudah-mudahan ramadhan kali ini bukan ramadhan terakhir dalam hidup saya”, shotout yang sebetulnya adalah ungkapan terdalam dari hati saya (barangkali di sini saya tidak perlu mengungkapkan alasan di balik shotout tersebut karena sifatnya yang amat personal dan memiliki cerita yang amat panjang, yang tidak cukup bila hanya diceritakan di forum ini). akan tetapi, dikarenakan muncul protes dari vera ‘kapan punya ip 4′, shotout ini saya ganti karena menurutnya sangat menyeramkan dan amat bernada pesimistis, seolah-olah saat ini saya sedang mengidap penyakit mematikan yang memvonis saya hanya bisa bertahan hidup dalam waktu singkat seperti mas randy pausch, profesor komputer dari carnegie mellon university amerika serikat yang kuliah terakhirnya dan buku seputar perjuangannya melawan kanker pankreas amat sangat menginspirasi banyak orang, termasuk saya. betapa selama ini kita amat sering ‘menghinakan’ hidup kita yang amat berharga ini, dan sang profesor benar-benar membuktikan bahwa hidup ini memang berharga, bahkan di saat kita hendak menghadapi kematian. sungguh pengalaman hidup yang amat inspiratif!
kembali ke topik awal. lantas kenapa saya menulis shotout berbunyi “mudah-mudahan ramadhan kali ini menjadi ramadhan terbaik dalam hidup saya” ? karena sebagai seorang muslim (entah saya termasuk golongan muslim yang mana) saya meyakini bahwa ramadhan bukan hanya momen pembersihan alat pencernaan melalui ritual menahan diri dari makan dan minum selama seharian penuh. lebih dari itu, ramadhan adalah kawah candradimuka, di mana kita digodok sedemikian rupa, dengan harapan setelah ramadhan usai kita semua akan menjadi manusia yang lebih baik. terlepas dari apakah filosofi ini masih berlaku di tengah jaman yang mengkomersilkan segala hal, termasuk religiusitas, secara pribadi saya tetap mengagungkan keistimewaan ramadhan. maka tak heran muncul harapan ramadhan kali ini akan menjadi ramadhan terbaik dalam hidup saya karena jika ramadhan kali ini menjadi ramadhan terbaik maka momen hidup yang saya hadapi saat ini dan seterusnya akan menjadi momen terbaik dalam hidup saya. bukankah manusia adalah makhluk Tuhan yang tak pernah puas, maka apa salahnya apabila kita senantiasa menginginkan hidup kita selalu dalam kondisi terbaik, terbaik, dan terbaik?
akan tetapi, seperti kata pepatah, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. maksud hati meraih ramadhan terbaik, apa daya iman saya tak sedang menaik. mengapa saya mengatakan ‘tak sedang menaik’? bukankah iman itu adalah sesuatu yang tidak kasat mata? apa parameternya sampai-sampai saya mengklaim iman saya ‘tak sedang menaik’?
saya adalah masyarakat awam yang ’semi-terpelajar’. maka, wajar jika parameter yang saya gunakan untuk menilai kualitas iman saya pun adalah parameter yang biasa digunakan oleh masyarakat awam. jujur, di sini saya mengabaikan realibilitas dan validitas, karena saya tidak sedang membahas mata kuliah metode penelitian komunikasi kuantitatif (yang dengan segenap tenaga saya berjuang menghadapinya, namun ahirnya saya harus mengelus dada karena kalah dengan skor yang memalukan). biarlah itu jadi urusan mereka, para pakar penelitian. di sini saya hanya ingin mencurahkan isi hati. tapi, jika kemudian muncul kontroversi, saya akan berusaha berbesar hati.
parameter saya sederhana saja, sejauh mana tingkat ‘kerajinan’ saya melaksanakan ritual ibadah selama ramadhan ini. ada tiga ritual ibadah yang saya soroti, yakni solat tarawih, sahur, dan membaca al-qur’an. ketiganya memang bukan ibadah wajib, tetapi khas dilakukan oleh banyak orang di bulan ramadhan. lagipula, menurut saya ibadah wajib itu tidak perlu dipertanyakan kembali, karena itu adalah esensi dari keislaman kita. selama kita memiliki komitmen terhadap keislaman kita, maka selama itu kita harus berusaha menjaga ibadah wajib kita, jangan sampai bolong-bolong.
pertama, soal tarawih. sehari sebelum ramadhan tiba, kakang saya menelpon, menanyakan banyak hal, tentang kabar saya, kesehatan saya, keuangan saya, asmara saya (tetapi jangan sampai anda mengira kakang saya adalah pakar astrologi yang karena tahu saya berzodiak scorpio lantas dia berbicara macam-macam), hingga isu-isu seputar bulan ramadhan. satu ucapannya yang selalu terngiang di telinga saya adalah: (aslinya dalam bahasa sunda, saya terjemahkan demi kenyamanan pembaca) “awas sep, jangan mentang-mentang kamu jauh dari emak lantas tarawehmu bolong-bolong. kalo puasa, kakang yakin asep pasti full, tapi kalo soal taraweh, kakang kurang yakin, kamu kan paling males ngelakuin ibadah sunah”. pelan sih, tapi dalem! saya hanya mengiyakan saja, padahal dalam hati saya hanya bisa bertanya-tanya, apa iya taraweh saya ga bakalan bolong-bolong? kenyataannya memang bolong-bolong. hingga hari ke-18 puasa, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya mengikuti taraweh, sisanya bolong-bolong semua. ini adalah rekor terbanyak saya bolos taraweh. maklum, rumah tempat tinggal saya di kampung halaman sana berdempetan dengan masjid, dan keluarga saya secara turun temurun menjadi pengurus masjid. akan terdengar konyol bila orang yang rumahnya berdempetan dengan masjid malah tidak ikut taraweh. apa yang menyebabkan saya banyak bolos taraweh? karena saya malas.
kedua, soal sahur. ini juga ibadah sunah, tapi posisinya sangat vital bagi orang yang hendak berpuasa. bagaimana tidak, seharian penuh kita tidak makan dan tidak minum. secara manusiawi, tubuh kita perlu asupan nutrisi agar tetap berenergi selama berpuasa. apalagi di jaman yang menuntut setiap orang penuh dengan berbagai kegiatan ini. kalau nutrisi kita kurang, stamina kurang, pastinya kegiatan kita akan sedikit terganggu. dan jika ini yang terjadi, barangkali mereka yang menganggap agama adalah penghambat kemajuan akan bertepuk tangan dengan riang karena tesis mereka teruji kebenarannya. maka, mau tidak mau kita harus mengatur strategi agar selama puasa kita tetap berstamina prima, dan makan sahur adalah salah satu kuncinya. dulu, ketika saya masih kecil saya paling semangat jika dibangunkan untuk makan sahur. apalagi, waktu itu keluarga saya masih utuh. ada emak yang cantik jelita, ada almarhum apa yang bersahaja, ada aa dan teteh-teteh saya yang masih single dan selalu berbahagia. maka sahur adalah momen penuh keceriaan, khas keluarga besar kelas menengah yang selalu berusaha menyikapi setiap apa pun yang terjadi dengan tawa. kini, momen indah itu hanya tinggal kenangan. saya sekarang merantau, jauh dari keluarga. kalaupun saya pulang ke kampung halaman, maka anggota keluarga yang masih bertahan sahur di rumah saya hanya tinggal saya dan emak saya. apa saya telah lama meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya. aa saya dan teteh-teteh saya sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri-sendiri. maka, sahur pun terasa hambar dan basi. kalau di rumah saya mungkin masih bersemangat, karena saya sangat bersyukur masih bisa ditemani emak saya yang masih segar bugar di usianya yang semakin senja. sementara kalau di perantauan? ya ampun, malasnya minta ampun. saya malas bangun karena seringkali saya tidur terlalu larut malam. sekalipun saya menyalakan alarm, tetap saja saya sering bolos sahur. kalaupun saya bangun, saya tetap malas mencari makanan di luar. maka, terkadang saya makan apa saja yang bisa dimakan di kamar kos saya, walau terkadang hanya ada air putih saja. maka, puasa yang berstamina pun terkadang tidak berhasil saya capai. kenapa saya bolos sahur? karena saya malas.
yang ketiga, soal membaca al-qur’an. ini pun bukan ibadah wajib. akan tetapi, setiap muslim meyakini bahwa al-qur’an adalah pegangan hidup yang utama. dan kita hanya akan mampu menjadikannya pegangan hidup jika kita memahami isinya. dan langkah awal untuk memahami isinya adalah dengan membacanya. lantas bagaimana jika setelah rajin membacanya kita tetap tidak memahaminya? al-qur’an kan berbahasa arab, dan bahasa arab adalah bahasa asing yang pamornya jauh di bawah bahasa asing lainnya. itu bukan masalah, karena bagi yang membacanya, sekalipun tidak memahaminya, tetap ada pahalanya. ini bukan pendapat saya lho, ini adalah janji Alloh, dan Ia tidak akan berbohong. sejatinya, al-qur’an baik dibaca di bulan apa saja. akan tetapi, berhubung di bulan puasa semua kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, maka orang lebih rajin membaca al-qur’an di bulan puasa dengan harapan pahalanya akan dilipatgandakan. maka tak heran, di bulan ramadhan berbagai kegiatan seputar membaca al-qur’an pun menjadi sangat gencar diselenggarakan. di kampung halaman saya bahkan tiap ramadhan ada acara lomba khatam al-qur’an. pemenangnya akan diberi award berupa uang dan sejumlah alat tulis, selain tentunya kepuasan batin tersendiri. dulu saya rajin mengikuti lomba ini, tetapi tidak pernah menang. rekor terbanyak waktu itu, kalau tidak salah, 17 kali khatam selama satu bulan puasa. saya waktu itu paling banter hanya bisa khatam sebanyak 4 kali, itu pun setelah saya berusaha melakukan resecheduling kegiatan menonton tv. sekarang? lebih parah lagi. hingga hari ke-18 puasa, jangankan sampai 4 kali khatam, sekali khatam pun belum bisa saya capai. kenapa saya tidak bisa khatam al-qur’an selama bulan ramadhan kali ini? karena saya malas.
dari jawaban ‘karena saya malas’ inilah saya ‘mencurigai’ ada yang tidak beres dengan iman saya. apakah ini adalah indikasi iman saya ’sedang tak naik’? ataukah karena ada pergeseran paradigma saya akan pentingnya ritual keagamaan? apakah ini adalah indikasi ’sekularisasi’ diri saya? ataukah murni karena kemalasan saya? apakah saya adalah pengikut tokoh yang profilnya dimuat di tempo edisi kemerdekaan kemarin? konon ia dididik dalam tradisi islam tradisional tetapi kemudian tumbuh menjadi muslim liberal, bahkan cenderung atheis. ataukah saya masih tetap pengagum the second proclamator yang tidak terjebak pada rasionalitas membabi buta meskipun ia dididik dalam tradisi pendidikan yang amat rasional? lantas di mana letak relevansi ungkapan “mudah-mudahan ramadhan kali ini menjadi ramadhan terbaik dalam hidup saya”?
ENTAHLAH, ADA YANG MAU MEMBANTU MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN SAYA?
Uncategorized | Comments (4)